Kenapa banyak pemerintah khawatir akan keamanan Tiktok? Benarkah China menggunakannya untuk memata-matai pengguna?

Shou Zi Chew, CEO TikTok, telah berjuang selama berbulan-bulan untuk meyakinkan bahwa platform berbagi video yang berbasis di China itu aman. Namun, banyak pejabat pemerintah di AS, Inggris, Kanada, dan banyak negara di Eropa telah melarang aplikasi tersebut diunduh di ponsel para staf.

China menuduh AS melebih-lebihkan ancaman keamanan siber untuk menekan perusahaan yang sedang berkembang pesat itu. Namun, momentum untuk mendorong penjualan paksa TikTok ke perusahaan AS atau melarangnya sama sekali semakin meningkat. Hal ini disebabkan tuduhan bahwa jejaring sosial tersebut dapat digunakan sebagai alat mata-mata.

TikTok hampir dilarang di AS oleh Presiden Donald Trump pada tahun 2020. Setiap hari, para eksekutif TikTok menghadapi berbagai pertanyaan tentang risiko keamanan siber yang ditimbulkan oleh aplikasi tersebut. Meningkatnya ketegangan geopolitik antara China dan negara-negara Barat membuat masa depan TikTok semakin genting dari sebelumnya.

Terdapat tiga kekhawatiran seputar keamanan siber yang terus muncul terkait TikTok. Pertama, TikTok mengumpulkan data dalam jumlah yang “berlebihan.” Kedua, TikTok dapat digunakan oleh pemerintah China untuk memata-matai pengguna. Ketiga, TikTok bisa digunakan sebagai alat “cuci otak.”

Gambaran keseluruhannya adalah salah satu ketakutan teoretis dan risiko teoretis. Para pengkritik berpendapat bahwa TikTok adalah “kuda Troya.” Meskipun terlihat tidak berbahaya, TikTok bisa menjadi senjata ampuh selama masa konflik.

TikTok telah dilarang di India, yang mengambil tindakan pada tahun 2020 terhadap aplikasi tersebut dan lusinan platform China lainnya. Larangan AS terhadap TikTok dapat berdampak besar pada platform tersebut, karena biasanya sekutu AS sering kali mengikuti keputusan semacam itu. Sebagai contoh, AS berhasil memimpin seruan untuk memblokir raksasa telekomunikasi China Huawei agar tidak digunakan dalam infrastruktur 5G, berdasarkan risiko teoretis.

Perlu dicatat bahwa risiko ini hanya satu arah. China tidak perlu khawatir dengan aplikasi AS karena akses warga China ke aplikasi-aplikasi tersebut sudah diblokir selama bertahun-tahun. Namun, kekhawatiran terkait keamanan siber TikTok tetap menjadi perhatian utama di kalangan masyarakat internasional.